Bela Dedi Mulyadi, Lalam Martakusumah Sebut Ucok Tidak Dewasa Dalam Berpolitik
Perseteruan internal Partai Golkar Purwakarta kembali menjadi perhatian setelah muncul pernyataan dari sejumlah kader senior terkait perjalanan politik partai tersebut. Mantan Sekretaris DPD Partai Golkar Purwakarta, Lalam Martakusumah, meminta Ucok Ujang Wardi tidak terlalu jauh mencampuri persoalan internal partai setelah Dedi Mulyadi memutuskan hengkang dari Golkar.
Lalam menilai pernyataan Ucok mengenai merosotnya perolehan kursi Partai Golkar Purwakarta ketika Dedi Mulyadi menjabat sebagai Ketua DPD Golkar Purwakarta perlu dilihat secara lebih menyeluruh.
Menurut Lalam, Ucok juga berada dalam struktur politik Golkar pada periode tersebut. Karena itu, ia menilai tanggung jawab terhadap kondisi partai tidak dapat diarahkan hanya kepada satu orang.
Pernyataan tersebut disampaikan Lalam pada 10 Juli 2023, ketika dinamika internal Partai Golkar Purwakarta tengah menjadi sorotan menjelang Pemilu 2024.
Lalam Soroti Pernyataan Ucok
Lalam mempertanyakan pernyataan Ucok yang menyinggung penurunan perolehan kursi Partai Golkar Purwakarta saat Dedi Mulyadi menjadi Ketua DPD.
Menurut Lalam, kondisi tersebut merupakan persoalan yang semestinya menjadi tanggung jawab bersama para pengurus yang berada dalam struktur partai pada saat itu.
Ia mengingatkan bahwa Ucok ketika itu juga memiliki posisi penting karena menjabat sebagai Ketua DPRD Purwakarta dari Partai Golkar.
Karena itu, Lalam menilai kurang tepat apabila persoalan tersebut baru kembali disoroti setelah Dedi Mulyadi tidak lagi berada di Partai Golkar.
Ucok Disebut Pernah Berada dalam Struktur Golkar
Lalam menyebut dirinya dan Ucok sama-sama pernah berada dalam struktur kepengurusan Partai Golkar Purwakarta.
Dalam pandangannya, keberadaan Ucok dalam struktur partai pada periode kepemimpinan Dedi Mulyadi membuat persoalan mengenai kinerja partai tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab kolektif.
Lalam juga menyinggung periode ketika Sarip Hidayat menjadi Ketua DPD Golkar Purwakarta dan dirinya menjabat sebagai sekretaris. Pada masa tersebut, menurut Lalam, perolehan kursi Golkar di DPRD Purwakarta meningkat dari delapan menjadi 11 kursi.
Pernyataan itu digunakan Lalam untuk menekankan bahwa dinamika perolehan kursi partai dipengaruhi banyak faktor dan tidak semata-mata dapat dikaitkan dengan satu figur.
Lalam Minta Konflik Internal Tidak Diperbesar
Lalam juga meminta para kader Partai Golkar mengutamakan konsolidasi daripada memperpanjang konflik internal.
Menurut dia, apabila seseorang masih merasa memiliki tanggung jawab terhadap partai, langkah yang seharusnya dilakukan adalah menyatukan kekuatan yang tersedia dan mencari solusi terhadap persoalan organisasi.
Ia menilai perbedaan pandangan politik merupakan hal yang biasa, tetapi tidak seharusnya berkembang menjadi konflik yang justru melemahkan partai.
Ucok Sebelumnya Bicara soal Perolehan Kursi
Sebelumnya, Ucok Ujang Wardi menyampaikan pandangannya mengenai kondisi Partai Golkar Purwakarta. Ia menyoroti perolehan kursi partai di DPRD yang menurutnya mengalami penurunan ketika Dedi Mulyadi menjadi Ketua DPD Golkar Purwakarta.
Ucok juga menyebut persoalan internal partai yang menurutnya sempat memengaruhi stabilitas organisasi, termasuk menjelang proses pendaftaran calon anggota legislatif.
Pernyataan tersebut kemudian mendapat tanggapan dari Lalam yang menilai persoalan internal sebaiknya diselesaikan melalui konsolidasi organisasi.
Persoalan Pengurus dan Dewan Etik Ikut Disorot
Dinamika tersebut juga berkaitan dengan persoalan sejumlah kader Partai Golkar Purwakarta yang menjadi perhatian Dewan Etik.
Ucok sebelumnya menyebut adanya desakan dari 15 Pengurus Kecamatan (PK) dan 135 Pengurus Desa (PD) kepada Dewan Etik Partai Golkar agar Dedi Mulyadi dan Maulana Akbar diberhentikan secara tidak hormat.
Menurut Ucok, desakan tersebut merupakan aspirasi dari akar rumput dan berkaitan dengan keinginan mendapatkan kepastian hukum terhadap kader yang tengah menghadapi persoalan di Dewan Etik.
Lalam kemudian mengambil posisi berbeda dengan meminta agar konflik tersebut tidak semakin diperbesar melalui pernyataan di ruang publik.
Lalam Sebut Cara Berpolitik Ucok Tidak Dewasa
Dalam pernyataannya, Lalam secara terbuka menyebut cara Ucok dalam menyikapi persoalan tersebut sebagai tindakan yang tidak dewasa dalam berpolitik.
Penilaian itu disampaikan karena Lalam menganggap Ucok seharusnya ikut membantu menyatukan kekuatan di internal Partai Golkar, bukan memperbesar persoalan setelah Dedi Mulyadi meninggalkan partai.
Menurut Lalam, menyerang atau menjelekkan pihak yang sudah tidak berada di dalam organisasi justru berpotensi membuat konflik semakin panjang.
Dedi Mulyadi Sudah Tidak Berada di Golkar
Dinamika tersebut berlangsung setelah Dedi Mulyadi meninggalkan Partai Golkar dan bergabung dengan Partai Gerindra.
Kondisi itu membuat hubungan politik serta sejarah kepengurusan Golkar di Purwakarta kembali menjadi bahan pembicaraan di kalangan kader dan tokoh politik daerah.
Lalam kemudian menilai bahwa energi politik seharusnya diarahkan untuk menghadapi agenda partai ke depan, terutama persiapan menghadapi kontestasi politik 2024.
Konsolidasi Dinilai Lebih Penting
Perbedaan pendapat di internal partai sebenarnya merupakan bagian dari dinamika organisasi politik. Namun, konsolidasi menjadi penting agar perbedaan tersebut tidak mengganggu kerja organisasi.
Bagi Partai Golkar Purwakarta, persiapan menghadapi Pemilu 2024 membutuhkan koordinasi antara struktur partai, kader, calon legislatif dan para tokoh politik.
Karena itu, perdebatan mengenai masa lalu perlu ditempatkan secara proporsional agar tidak menghambat agenda organisasi yang lebih besar.
Politik Daerah Memasuki Persaingan Baru
Pada 2023, partai politik di berbagai daerah mulai meningkatkan konsolidasi menghadapi Pemilu 2024. Purwakarta juga menjadi salah satu daerah yang memiliki dinamika politik cukup kuat.
Perpindahan figur politik dari satu partai ke partai lain dapat memengaruhi peta dukungan, terutama ketika figur tersebut memiliki basis massa dan pengalaman panjang dalam politik daerah.
Situasi tersebut membuat komunikasi antarpartai dan konsolidasi internal menjadi semakin penting.
Perbedaan Pandangan Tidak Harus Berujung Konflik
Polemik antara Lalam dan Ucok menunjukkan bagaimana perbedaan pandangan mengenai perjalanan sebuah partai dapat berkembang menjadi perdebatan terbuka.
Namun, perbedaan pendapat tidak selalu harus berujung pada konflik berkepanjangan. Kritik dapat menjadi bagian dari evaluasi apabila disampaikan melalui mekanisme organisasi dan diarahkan untuk memperbaiki kondisi partai.
Sebaliknya, apabila perbedaan tersebut terus berkembang menjadi saling menyalahkan, kondisi itu berpotensi mengganggu konsolidasi politik menjelang agenda pemilu.
Menjaga Soliditas Partai Jadi Tantangan
Partai Golkar Purwakarta menghadapi tantangan untuk menjaga soliditas di tengah perubahan peta politik dan perpindahan sejumlah figur.
Pernyataan Lalam pada dasarnya menekankan pentingnya melihat persoalan partai sebagai tanggung jawab bersama. Sementara itu, pernyataan Ucok menunjukkan adanya evaluasi terhadap kepemimpinan partai pada periode sebelumnya.
Kedua pandangan tersebut menjadi bagian dari dinamika politik internal yang terjadi menjelang Pemilu 2024.
Harapan Konsolidasi Politik Berjalan
Perdebatan mengenai perjalanan Partai Golkar Purwakarta pada akhirnya diharapkan tidak menghambat agenda politik berikutnya.
Kader dan pengurus partai perlu membangun komunikasi yang sehat serta menyelesaikan persoalan organisasi melalui mekanisme yang tersedia.
Bagi masyarakat, dinamika tersebut juga menjadi gambaran bahwa politik daerah tidak hanya ditentukan oleh kontestasi antarpartai, tetapi juga oleh hubungan dan konsolidasi di dalam masing-masing organisasi.
Pernyataan Lalam Martakusumah yang membela Dedi Mulyadi sekaligus mengkritik cara Ucok Ujang Wardi berpolitik menjadi salah satu episode dalam dinamika Partai Golkar Purwakarta pada 2023. Peristiwa tersebut penting ditempatkan dalam konteks sejarah politik menjelang Pemilu 2024, bukan sebagai polemik politik terbaru.

